haha, judulnya aja udah alay banget. Tapi mudah-mudahan isinya gak alay ya. Pernah saya berpikir apa sebenarnya cinta? Pertanyaan yang disampaikan oleh seorang teman SMP saat tes pidatonya, “apa itu cinta? Saling menyayangi? Saling menyukai? Gak tau kan apa artinya cinta?”
Sekarang setelah direnungkan, ternyata benar juga. Terlalu dangkal jika cinta hanya diartikan seperti yang disebutkan di atas. Terlalu alay. Hahaha..
Saya coba menelisik kedalam otak, mencari lokus yang menyimpan makna cinta. Kata otak, “Sulit kalau kau cari disini sendiri, minta dulu kuncinya pada hati.” Oke, saya pergi, minta kunci pada hati. Kata hati, “Pintunya ada di otak ya.” Aduh ampun deh, dilempar dari otak kehati, dari hati ke otak. Mungkin itu yang dialami oleh orang-orang yang sedang dipenuhi bunga-bunga cinta. Atau hanya hati yang bicara? Tak mau peduli apa kata otaknya.
Jadi ingat sebuah lagu yang cukup unik dari sebuah band pendatang baru, “Bertahan satu cinta..Bertahan satu C.I.N.T.A” haha…
Apa iya, cinta bisa membuat manusia rapuh jadi kuat? Bukan sebaliknya membuat manusia kuat jadi rapuh?
Semua memang relatif. Tergantung dari tiap variabel pada cinta itu sendiri. Cinta ibu pada anaknya, membuat ibu bertahan walau lelah sudah tak terkira, (I love you Mom). Cinta pada saudara, membuat manusia mau mengalah demi kebahagiaan saudaranya. Cinta pada sahabat, membuat manusia selalu punya tempat berdiskusi, bercengkerama, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Cinta pada pasangan, pasangan yang kaya gimana dulu nih? Kalau cinta pada pasangan seperti Pak Habibie dan Alm Ibu Ainun Habibie insya ALLAH bisa jadi teladan. Teladan kesetiaan, teladan toleransi, teladan saling menghargai, dll. Tapi kalau pasangan seperti yang tuuuuttt (sensor, biar anda interpretasikan sendiri ya,hehe), coba kita pikir-pikir dulu dimana manfaatnya. dimana mudharatnya? Lalu tarik kesimpulan berdasarkan otak manusia dan naluri yang Allah berikan pada kita. Silahkan, masing-masing kita punya jawabannya. Apakah kita tega melukai kesucian orang yang kita cintai? Silahkan, kita punya jawabannya masing-masing.
Nurani, menurut buku ESQ (saya lupa nama pengarangnya) sebenarnya tak pernah bohong. Karena Allah telah memasukkan sifat-sifat-Nya yang mulia ke dalam nurani kita. Tapi terkadang kita yang tidak menghiraukannya. Dengar sedikit bisikannya dan berlalu tanpa sisa.
Ya, sampai demikian Allah mencintai kita. Telah dimasukkannya sifat-sifat yang begitu mulia, tapi terasa hanya lewat bagi kita. Telah diberi-Nya berbagai berkah dalam hidup kita. Tapi ingatkah kita berucap syukur pada-Nya saat sampai kembali dirumah? Saya juga sering lupa. Ini cuma hal kecil, dan masih banyak bentuk cinta Allah lainnya yang begitu dahsyat. Dan salah satu yang paling dahsyat adalah kehidupan. Allah kirimkan Rasulul untuk menyampaikan cinta pada hamba-Nya. Ya, Rasul juga bentuk cinta Allah pada kita. Cinta-Nya pada kita tak akan terganti.
Saya kembali menarik nafas dalam saat membaca apa yang saya tulis ini. Menulis tentang cinta, tak ubahnya bagai menulis tentang rahasia. Tak mudah diterka. Abstrak, tapi ada.
Jadi apa makna cinta bagi anda?
